Analisis Data Surveilence Malaria di Kabupaten Nias
ANALISIS DATA SURVEILENCE MALARIA DI KABUPATEN NIAS
Malaria masih merupakan masalah kesehatan yang penting di Kabupaten Nias. Hal ini dapat dilihat dari trend penyakit malaria di kabupaten Nias.

Grafik trend diatas menunjukkan kasus malaria klinis di kabupaten Nias. Dari grafik tersebut dapat terlihat bahwa trend penyakit malaria masih menetap, belum ada penurunan, namun juga tidak didapatkan adanya peningkatan kasus. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa sebab:
1. Tindakan pemberantasan malaria baru berhasil mencegah terjadinya peningkatan kasus, namun belum berhasil menurunkan kasus malaria di kabupaten Nias.
2. Deteksi kasus malaria masih belum optimal, sehingga belum semua kasus malaria terlaporkan dengan baik
3. Sistim pelaporan yang masih belum baik sehingga belum semua kasus terlaporkan.

Grafik trend pemeriksaan sediaan darah malaria di kabupaten Nias didapatkan adanya peningkatan yang signifikan setelah bulan Mei 2008. Peningkatan signifikan pemeriksaan sediaan darah malaria disebabkan adanya distribusi alat diagnostic malaria yang baru yaitu dengan menggunakan RDT. Sehingga dapat disimpulkan bahwa alat diagnostic RDT membantu Puskesmas untuk meningkatkan cakupan pemeriksaan sediaan darah malaria, dibandingkan dengan pemeriksaan mikroskopis, dimana tampak pada grafik sebelum bulan Mei 2008, dimana pemeriksaan sediaan darah masih secara mikroskopis saja.

Grafik trend sediaan darah positif malaria juga meningkat setelah bulan Mei 2008. Hal ini sesuai dengan trend pemeriksaan sediaan darah yang juga meningkat setelah bulan Mei 2008. Peningkatan trend ini dipengaruhi dengan adanya alat diagnostik RDT yang memudahkan Puskesmas untuk mendeteksi adanya penderita malaria.
Annual Paracite Incidence (API) untuk kabupaten Nias pada tahun 2008 sebesar 0,43. Angka API sebesar tersebut, kabupaten Nias termasuk daerah dengan kriteria Low Case Incidence (LCI). Namun demikian angka API ini akan dapat lebih valid lagi kalau semua Puskesmas dapat efektif melakukan pemantauan dan penjaringan kasus malaria baik klinis maupun yang positif.
Data API untuk beberapa Puskesmas masuk dalam kategori daerah dengan Medium Case Incidence (MCI) yaitu di Puskesmas Bawolato, Botombawo dan Mandrehe. Ketiga Puskesmas tersebut memiliki data cakupan angka malaria klinis, sediaan darah yang diperiksa dan sediaan darah yang positif lebih tinggi dibandingkan Puskesmas yang lainnya. Hal ini dapat terjadi karena memang di daerah tersbut terdapat banyak kasus malaria dan hal ini ditunjang oleh petugas Puskesmas yang rajin untuk melakukan pemantauan dan pemeriksaan kasus malaria.
Dengan melihat ketiga grafik trend malaria diatas dapat disimpulkan bahwa penggunaan alat diagnostik baru RDT mempengaruhi deteksi malaria di kabupaten Nias dan dengan adanya alat diagnostik baru ini terlihat bahwa trend penyakit malaria meningkat di kabupaten Nias. Sehingga diperlukan berbagai upaya untuk mengendalikan penyakit ini.
DATA PUSKESMAS
Data surveilence trend penyakit malaria di kabupaten Nias terlihat ada beberapa hal yang perlu dicermati:
- Masih ada beberapa Puskesmas angka cakupan untuk pemeriksaan sediaan darah masih belum konsisten. Puskesmas pada awal penggunaan RDT pada bulan Mei 2008, cakupan pemeriksaan sediaan darah meningkat. Namun seiring dengan hasil pemeriksaan yang negatif membuat cakupan pemeriksaan sediaan darah menurun serta diikuti dengan menurunnya cakupan malaria klinis di Puskesmas tersebut. Hal ini akan mempengaruhi angka sediaan darah positif malaria di tingkat kabupaten Nias.
- Beberapa Puskesmas dengan adanya alat diagnostik baru RDT cakupan pemeriksaan sediaan darah meningkat dan cakupan sediaan darah positif juga ikut meningkat. Peningkatan ini diiringi juga dengan peningkatan malaria klinis. Puskesmas yang terbaik peningkatannya adalah Puskesmas Mandrehe.
- Angka API sebagian besar Puskesmas dibawah 1% atau termasuk daerah dengan Low Case Incidence (LCI), namun angka API ini dipengaruhi oleh beberapa hal termasuk pelaporan, cakupan pemeriksaan darah yang masih terkendala di beberpa Puskesmas.
Dari data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa masih diperlukan usaha untuk meningkatkan angka cakupan pemeriksaan darah di berbagai Puskesmas, agar tidak didapatkan penderita malaria yang tidak terlacak. Dengan peningkatan cakupan pemeriksaan darah diharapkan akan dapat mengetahui kondisi penyakit malaria di kabupaten Nias secara riil. Selain itu diperlukan pelaporan yang kontinu dan valid agar data di tingkat kabupaten dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Comments(0)







